The US Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) telah ditugaskan untuk membangun  senjata laser jenis baru yang 10 kali lebih kecil dan lebih ringan dari laser saat ini yang mempunyai kekuatan yang sama untuk melindungi pesawat AS dari ancaman darat. Pada pengembangan jenis laser terbaru tersebut, para ilmuwan percaya, bahawa itu akan mengubah perang konvensional ke tingkat yang besar.
“Ini adalah sebuah perkembangan besar. Ini pasti akan memberikan keunggulan untuk angkatan bersenjata Amerika Serikat baik dalam perang konvensional maupun tidak konvensional”, Dr Ata-ur-Rahman, seorang ilmuwan Pakistan yang terkenal, dan mantan menteri untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, kepada OnIslam.net.
Dr Rahman, yang juga merupakan ilmuwan pertama dari dunia Muslim yang telah memenangkan penghargaan bergengsi UNESCO Science Prize (1999 ), mengatakan bahwa perkembangan terbaru akan mengubah arah peperangan yang terjadi di era sekarang.
“Mereka ( senjata laser) tidak memerlukan pesawat besar, tetapi mereka dapat dibawa oleh pesawat kecil, dan menyebabkan kerusakan besar di udara dan di darat”, jelasnya.
“Pencapaian ini, sekali lagi membuktikan bahwa satu-satunya kekuatan super Negara Amerika adalahkarena pengembangan yang terus-menerus dilakukan dalam menghasilkan “dunia yang menakjubkan” dalam ilmu pengetahuan dan teknologi”, kata Rahman, yang juga menjabat sebagai koordinator umum COMSTECH, sebuah organisasi yang didirikan oleh OKI  (Organisasi Kerjasama Islam ) di awal tahun 1980 untuk mempromosikan kerjasama antara negara-negara anggota OKI di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Laser yang berkekuatan 150 – kilowatt akan diuji pada tahun 2014. Laser tersebut merupakan bagian dari DARPA’s High Energy Liquid Laser Area Defense System. Laser tersebut terutama akan bertujuan untuk menembak jatuh roket, misil, atau senjata lain yang mengancam pesawat selama pengujian lapangan tanah berbasis dijadwalkan untuk 2014. Tapi laser ini juga memungkinkan bertindak sebagai senjata ofensif terhadap beberapa target darat.
“Tidak ada yang akhir atau perncapaian tertinggi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan mungkin datang dengan sesuatu yang jauh lebih baik dan maju dari yang ada sekarang ini. Tapi, tidak diragukan lagi, sampai hari ini, ini merupakan prestasi yang luar biasa”. Demikian menurut pengatamat Rahman, yang dianugerahi gelar Doktor Ilmu oleh University of Cambridge pada tahun 1987 dan Doktor Pendidikan oleh Coventry University, Inggris, pada tahun 2007.
Angkatan Laut tertarik  dengan senjata laser 150 – kilowatt tersebut dan melibatkan diri dalam pengujian dengan target kapal permukaan sebelum akhir 2014. Uji coba Angkatan Laut sebelumnya telah menunjukkan bagaimana laser tersebut dapat menembak jatuh pesawat udara dan menonaktifkan perahu kecil.
Dimana posisi Ummat Islam?
Ketika dunia Barat telah memanjat tangga kemajuan dengan kecemerlangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk 500 tahun terakhir ini, dunia Muslim masih mengabaikan fakta bahwa kurangnya perhatian mereka akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat mereka mengemis semuanya dari Barat, mulai dari peralatan bedah kecil sampai jet tempur terbaru.
Muslim membentuk seperlima dari penduduk dunia dan dalam hal pendapatan, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hampir diabaikan.
“Saya sangat menyesal untuk mengatakan ini, tapi ini adalah kenyataan pahit, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi belum pernah jadi prioritas dunia Muslim selama 500 tahun terakhir. Dan akibat dari kelalaian kriminal ini angat jelas. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mencari bantuan Barat dalam setiap sektor kehidupan”, Rahman menyesalkan.
Muslim memiliki kebanggaan masa lalu dalam bidang ilmu dan teknologi, namun ilmu pengetahuan saat ini adalah salah satu hal yang paling diabaikan dalam negeri Islam.
Pakistan adalah negara Islam nuklir satu-satunya dari tujuh Negara yang dinyatakan sebagai negara-negara nuklir, dan tidak ada satupun Universitas Muslim yang termasuk dalam urutan 100 pertama universitas terbaik di dunia.
“Para penguasa muslim harus mengerti – lebih cepat lebih baik – bahwa untuk keluar secara  terhormat dari ketergantungan mereka pada Barat tidak akan mungkin dilakukan tanpa kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi”, kata Rahman, yang menjabat sebagai menteri ilmu pengetahuan dan teknologi 2000-2002.
Hafiz Naeem-ur Rehman, seorang insinyur dan juga seorang ulama juga sependapat ” ilmu pengetahuan adalah harta yang hilang dari umat Islam. dimana pun kita menemukannya, kita harus mendapatkannya” kata Hafiz Naeem, yang mendapat gelar teknik sipilnya dari NED University of Engineering and Technology.
Ia mengutip kata-kata Dr Muhammad Aijazul Khatib dari Universitas Damaskus bahwa “berbeda dengan ayat 250 yang menjelaskan tentang masalah hukum, sekitar 750 ayat Al-Qur’an – hampir seperdelapan- menasihati orang-orang beriman untuk mempelajari alam semesta untuk merenungkannya”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan bahwa itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim – pria dan wanita – untuk menuntut ilmu pengetahuan.
“Sampai umat Islam mengikuti perkataan Nabi Muhammad (saw ) sehubungan dengan pencapaian ilmu pengetahuan, ummat Islam tidak akan mampu mengembalikan ke kejayaannya hilang. Allah Subhanahu Wata’ala tidak mengubah kondisi mereka yang tidak mau mengubahnya sendiri”, kata Naeem menjelaskan.
Bagaimanapun, kata Rahman, senang rasanya melihat beberapa negara-negara Islam yang telah meningkatkan anggaran untuk ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Pada tahun 2000, sekitar 0,2 persen dari total PDB 57 negara-negara Islam dialokasikan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan pada 2012, melesat hingga 0,5 persen dari total PDB, hampir 150 persen peningkatan alokasi” , Rahman menambahkan bahwa meskipun peningkatan ini, masih jauh dari alokasi yang dibuat oleh negara-negara barat dalam hal ini.
“Di beberapa negara, ada kesadaran sekarang bahwa kemandirian dan kemajuan tidak dapat dicapai tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Bagaimanapun, Rahman menyesalkan bahwa meskipun COMSTECH telah mengembangkan ilmu yang berbeda dan beberapa program terknologi di 40 negara-negara Islam, keterbatasan dana dari negara-negara anggota menghambat tujuan organisasi. (ameera/arrahmah.com)